Selasa, 05 Oktober 2010

MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL DAN PERKEMBANGANNYA

Posted by Ngabidin 10.36, under | No comments

I. PENDAHULUAN
Sekitar dua abad sebelum masehi hingga awal abad ke lima, Spanyol berada di bawah Imperium Romawi. Sejak tahun 406 M, Spanyol dikuasai oleh bangsa Vandal, yaitu bangsa yang berimigrasi dari negeri asal mereka yaitu suatu daerah yang terletak di antara Sungai Order dan Vistuala. Pengusa daerah ini mendirikan kerajaan di propinsi wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal ini kemudian diambil alih oleh orang-orang Gothic, maka didirikanlah kerajaan Visigoth, yang wilayah itu dikenal dengan Vandalusia. Dan setelah kedatangan orang-orang Islam pada tahun 92 H/711 M, sebutan Vandalusia diubah menjadi Andalusia atau Andalus.
Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal munculnya Islam di benua Eropa karena Spanyol merupakan pintu gerbang bagi benua tersebut. Sebagaimana diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekspansi Islam ke Wilayah Barat (dalam hal ini Eropa bagian Barat) terjadi pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dengan khalifah Al-Walid bin Ibnu Malik.
Pada saat itu Musa Bin Nushair, sebagai penglima perang khalifah dan Thariq bin Ziyad sebagai komandan lapangan, dimana keduanya dianggap sebagai tokoh pelaku utama atas masuknya Islam di Spanyol. Mereka berhasil menguasai wilayah Afrika Utara dan kemudian menyeberang ke Benua Eropa. Setelah masuknya Islam di Spanyol maka banyaklah kemajuan-kemajuan yang diperoleh dan hal ini dapat dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh dan para ilmuwan yang muncul dari sana. Namun setelah berabad-abad lamanya Islam menguasai Spanyol, Islam mulai mengalami kemunduran dan kehancuran, bahkan kemudian Islam hilang dari bumi tersebut. Hal ini disebabkan dari berbagai fakor.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Kondisi Spanyol Pra Islam
B. Masuknya Islam di Spanyol
C. Perkembangan Islam di Spanyol

III. PEMBAHASAN
A. Kondisi Spanyol Pra Islam
Jazirah ini dulu bernama Iberia (kurang lebih 93% wilayah Spanyol, sisanya Portugal). Setelah bangsa Romawi berkuasa di sana pada abad yang kedua mereka menamainya dengan “Asbania” yang berarti “Pantai Marmot”. Karena orang-orang Punisia ketika singgah di semenanjung itu nampaklah kawanan-kawanan Marmot. Sesudah bangsa Romawi, bagian semenanjung selatan itu juga pernah takluk kepada suku-suku bangsa Vandal pada abad kelima. Sesudah itu bangsa Goth menyerang pula pada permulaan abad keenam. Mereka mengusir bangsa Vandal ke Afrika Utara.
Pada masa Islam, Spanyol dikenal dengan sebutan Andalusia yang berasal dari kata “Vandalusia” berarti negeri bangsa Vandal.. Andalusia terletak di benua Eropa barat daya, dengan batas di timur dan tenggara adalah Laut Tengah, di selatan Benua Afrika yang terhalang oleh Selat Gibraltar, di barat Samudera Atlantik dan di utara oleh Teluk Biscy. Pegunungan Pyrenia di timur laut membatasi Andalusia dengan Prancis.
Menjelang penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, ekonomi dan politik negeri ini berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Negeri di semenanjung itu didiami oleh penduduk yang berbeda-beda kebangsaan dan agamanya. Antara orang Kristen dan Yahudi timbul permusuhan yang meruncing dan sering kali orang Yahudi mengalami kekalahan dan menderita bermacam-macam kesusahan. Karena penguasa Ghothic bersifat tidak toleran terhadap penganut agama lain. Penganut agama Yahudi di Spanyol dipaksa dibabtis menurut agama Kristen, yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh. Sehingga kelompok minoritas Yahudi selalu mendapat tekanan politik akibat berbeda paham dengan agama penguasa. Hal ini menambah kompleksnya persoalan sosial di wilayah ini.
Pada masa itu masyarakat Spanyol juga terpolarisasi dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya, sehingga ada masyarakat kelas satu, dua, dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu yakni penguasa, yang terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan tanah kecil. Kelompok masayarakat kelas tiga terdiri atas budak, termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah tapi tidak menikmati tanah yang mereka garap, pengembala, pandai besi, orang Yahudi, dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Dengan adanya kasta tersebut mengakibatkan rakyat kelas dua dan tiga sangat tertindas, mental dan perilakunya merosot. Demi mempertahankan hidup, mereka harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Kebangkrutan moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi seperti yang diungkapkan Amir Ali: “Their morality became as degraded as their material condition was wretched”. Moralitas mereka menjadi terdegradasi karena kondisi material mereka yang buruk .
Selain itu, penguasa-penguasa Spanyol juga saling merebutkan kekuasaan. Awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Opas dan Asilla, kakak dan anak Witiza.
Kondisi sosial, ekonomi, keagamaan terutama keadaan politik yang kacau menjadikan Spanyol menjadi terpuruk, hal tersebut menjadi salah satu faktor Islam mudah masuk ke Spanyol.
B. Masuknya Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), Salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana umat Islam sebelumnya telah menguasai Afrika Utara. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di Zaman khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur didaerah itu. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair.
Di Zaman Al-Walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Al-Jazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Ghotik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar memebuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikaitkan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan pasukan perang 500 orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit dari kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nusair pada tahun 711 M. Mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7.000 orang dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Sejarah mencatat bahwa panglima Thariq setelah seluruh pasukan selesai mendarat di Wilayah tersebut, membakar seluruh alat penyeberangan. Ia pun mengucapkan pidato singkat yang bersejarah: Al-Aduwwu amamakum wal bahru wara’akum fakhtar ayyuma syi’tum. (musuh di depan kamu, lautan di belakang kamu, silahkan pilih mana yang kamu kehendaki).
Sorak sorai pasukan yang berkekuatan 12.000 orang pada tahun 93 H/711 M, yang memilih maju ke depan, telah meninggalkan jejak besar didalam sejarah Islam. King Roderick maju dengan pasukan berkekuatan 100.000 orang. Jumlah pasukannya besar, tetapi semangat tempurnya telah dikalahkan oleh kemewahan hidup selama ini.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad, sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendapat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada,Toledo.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan yang lebih luas lagi dengan suatu pasukan yang besar. Ia berangkat menyeberangi selat dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukan, setelah musa berhasil menaklukan Idenia, Karmona, Seville dan Merinda serta mengalahkan kerajaan Ghotik, Theodomir di Orihuela. Ia bergabung dengan Thariq di Teledo. Kemudian keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam tampak begitu mudah. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang islam. Kondisi sosial politik dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Rakyat di bagi-bagi ke dalam sistem kelas sehingga kaedaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan dan ketiadaan persamaan hak. Dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas dan juru pembebas itu mereka temukan dari umat Islam.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan percaya diri. Mereka pun cakap, berani dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tidak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam yaitu toleransi persaudaraan dan tolong menolong sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
C. Perkembangan Islam di Spanyol
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar.
Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, termasuk akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi 20 kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara bangsa Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis sendiri terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisyi (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan untuk jangka waktu yang lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun akhirnya mereka mampu mengusir Islam di bumi Spanyol.
Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurahman Ad-Dakhil ke Spanyol pada Tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Ad-Dakhil. Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas. Selanjutnya ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahaman Ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman Al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan masjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdurrahman Al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman Al-Ausath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas Negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen Fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom). Namun gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintahan Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara-biara di samping asrama rahib atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Disamping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontak yang dipimpin oleh Hafsun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Peiode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya raja-raja kelompok yang dikenal dengan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalilfah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, khalifah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa susasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abdurrahman An-Nashir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Bani Umayyah di Baghdad. Andurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya juga memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyakrakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada Tahun 981 M, khalifah menunjuk Ibn Abi’ Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekeuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar Al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, Negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Katika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu ada yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapat perlindungan dari satu istana ke istana lain.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun terpecah ke dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun (1146-11235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibnu Tasyfin di Afrika Utara. Pada Tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya sendiri dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1068 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.
Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun Spanyol dan digantikan oleh Dinasti Muwahhidun. Pada masa Dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun.
Pada tahun 1146M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart. Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun’im. Antara tahun 1114 dan 1154M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasannya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa.
Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afriks Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristendan Seville jatuh tahun 1248 M. seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah Dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.
Tentu saja, Ferdenand dan isabela yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. umat Islam setelah dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggal Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada umat Islam di daerah ini. Walaupun Islam telah berjaya dan dapat berkuasa hampir tujuh setengah abad lamanya.

IV. KESIMPULAN
Dari sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa masuknya Islam di Spanyol berbeda dengan masuknya Islam di daerah lain. Datangnya Islam ke Spanyol atas permintaan dari penduduk setempat dan kedatangan Islam di Spanyol ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia Islam, terlebihlebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu pengetahuan dan peradaban. Kontribusi tersebut bisa terlaksana karena sikap ilmiah-konstruksif yang secara umum menyertai para ilmuwan dalam melakukan kajian-kajian ilmiahnya. Sikap toleransi yang cukup proporsional dalam komposisi masyarakat yang tingkat heterogenitasnya yang cukup luar biasa dalam membangun sebuah nilai peradaban yang pruralistik.
Kekuasaan Islam di Spanyol yang telah mencapai puncak kejayaannya kemudian mulai melemah kemudian mundur dan hancur secara perlahan akibat berbagai faktor. Diantaranya faktor utama penyebab kehancuran tersebut adalah akibat terjadinya disintegrasi yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang berusaha memerdekakan diri. Kekuasaan Islam kemudian digantikan oleh kekuasaan Kristen dan berusaha menghapus habis seluruh pengaruh Islam dan menghilangkan Islam dari bumi Spanyol.

V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan. Apabila ada kesalahan dalam penulisan dan penyampaian makalah ini kami mohon maaf. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan kami. Semoga pesan tersurat dan tersirat dalam makalah bermanfaat bagi kita sampai akhir nanti, terima kasih.

DAFTAR PUTAKA


Karim, M Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Jakarta: Pustaka Book Publisher.
Munir, Amin Samsul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Penerbit Hamzah.
Sunanto, Musrifah. 2007. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Kencana Media Group.
Syukur, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Syalaby, Ahmad. 2000. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: PT Al-Husna Zikra.
Thohir, Ajid. 2009. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Yatim, Badri. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
http://www.cybermq.com, Komunitas Muslim Indonesia-CyberMQ, 01 Oktober 2010, 14:43.
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/10/1/pustaka-160.htm, Masuknya Islam ke Spanyol, 01 Oktober 2010, 14:47.
http://www.wisnuworld.co.cc/2009/03/awal-penyiaran-islam-ke-andalusia.html, Islam di Andalusia, 01 Oktober 2010, 15:14.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tags

Blog Archive