Rabu, 02 Maret 2011

Makalah Hadist

Posted by Ngabidin 16.09, under | No comments

DORONGAN MENCARI RIZKI YANG HALAL

I. PENDAHULUAN
Dengan kekuasaan-Nya, Allah telah mengatur segala sesuatu dalam hidup kita termasuk rizki. Manusia tidak akan hidup tanpa rizki dari Allah SWT. Oleh karena itu rizki dari Allah sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Mencari rizki adalah hal mutlak untuk memenuhi kebutuhan. Akan tetapi dalam mencari rizki kita harus menggunakan cara yang benar dan halal sesuai hukum Islam.
Dalam mencari rizki, seorang Muslim harus menggunakan cara-cara yang halal. Seorang Muslim harus menggunakan cara-cara yang diridhoi oleh Allah agar rizki yang didapat tidak menjadikan petaka bagi mereka. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa hal yang erat kaitannya dengan rizki dan dorongan mencari rizki yang halal.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apakah pengertian rizki yang halal?
B. Apa yang mendorong manusia untuk mencari rizki yang halal?
C. Apakah hikmah mencari rizki yang halal?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Rizki yang Halal
Pengertian rizki yaitu sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh makhluk hidup. Kata halal berasal dari bahasa arab ( حلال ) yang berarti disahkan, diizinkan, dan diperbolehkan. Sedangkan rizki yang halal yaitu sesuatu yang dapat diambil manfaatnya dan boleh dikerjakan atau dimakan sesuai syari’at Islam. Islam juga memerintahkan manusia mencari rizki yang halal sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 172 :
             
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Selain itu, manusia juga diberi kebebasan untuk berkiprah dalam urusan bekerja, tetapi tidak boleh melebihi batas yang sudah ditentukan oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya:
            •       
Artinya:
“ . . . laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37)

Berdasarkan uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa mencari rizki itu diwajibkan kepada umat Islam. Berbagai cara mencari rizki yang deperbolehkan oleh syari’at Islam, antara lain melalui jual beli, pertambangan, pertanian dll.


B. Dorongan Mencari Rizki yang Halal
Ajaran Islam menekankan kewajiban yang keras atas setiap pemeluknya untuk giat bekerja dalam upaya meningkatkan kemampuan ekonominya. Bahkan menjadi Fardhu ’Ain (kewajiban Individual). Allah tidak akan membagi-bagikan rizki begitu saja tanpa melalui usaha dan kerja, karena hal itu akan membuat manusia pasif sehingga menjadikan manusia statis dan miskin. Sebagaimana dalam QS Ar-Ra’du 11
            
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu keum melainkan kaum itu merubahnya sendiri.
Selain itu, dorongan untuk mencari rizki yang halal itu lebih baik atas usahanya sendiri. Hal itu sesuai dengan hadist Nabi SAW:
اطيب ما اكل المؤمن كسبه
Artinya:
”Sebaik-baik apa yang dimakan oleh orang mukmin adalah hasil usahanya. (HR. Ibnu Majah dan Imam Ahmad bin Hanbal)
Selain hadist tersebut, ada beberapa hadist lain yang menjelaskan tentang dorongan mencari rizki yang halal sebagai berikut:
a. Hadits Abdullah bin Umar tentang orang memberi lebih baik dari orang yang menerima
حدثنا اَبُوالنُعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنَأ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ اَيُّوْبَ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ التَّبِيَّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يقول : قال َّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ وَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ وِ الْمَسْأَلَةِ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى فَالْيَدُ الْعُلْيَاهي الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَىهي السَّائِلَةُ {البخارى في كتاب الزكاة}
Artinya :
Bercerita kepada kita Abu Nu’man berkata telah bercerita pada kita Khammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi’ bin Umar r.a dia berkata: saya telah mendengar Nabi Saw bercerita kepada kita Abdullah bin Maslamah dari Malik bin Nafi’. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a : di atas mimbar Rasulullah SAW berbicara tentang sedekah, menghindari dari meminta pertolongan (keuangan) kepada orang lain, dan mengemis kepada orang lain, dengan berkata “tangan atas lebih baik dari tangan di bawah. Tangan di atas adalah tangan yang memberi, tangan di bawah adalah tangan yang mengemis”.
Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan yang mengakibatkan seseorang menjadi tercela dan hina.
Sebenarnya meminta-minta itu boleh dan halal, tetapi boleh disini diartikan bila seseorang dalam keadaan tidak mempunyai apa-apa pada saat itu, dengan kata lain yaitu dalam keadaan mendesak atau sangat terpaksa sekali. Jadi perbuatan meminta-minta itu dikatakan hina jika pekerjaan itu dalam keadaan serba cukup, sehingga akan merendahkan dirinya sendiri baik di mata manusia maupun dalam pandangan Allah SWT di akhirat nanti.
Orang yang dermawan lebih utama dari pada orang yang kerjanya hanya meminta-minta saja. Jadi bagi mereka yang memperoleh banyak harta harus diamalkan orang yang membutuhkan, sebab Islam telah memberi tanggung jawab kepada orang muslim untuk memelihara orang-orang yang karena alasan tertentu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu melalui zakat dan shadaqah dan Islam tidak menganjurkan hidup dari belas kasihan orang lain atau dengan kata lain Islam tidak menyukai pengangguran dan mendorong manusia untuk berusaha.
b. Hadits Abu Hurairah tentang menjual kayu bakar lebih baik dari pada meminta-minta
حدثنا يحي بن بكير حدثنا الليث عن عقيل عن ابن شهابٍ عن أبي عبيد مولى عبد الرحمن بن عوف أنه سمع ابا هريرة رضي الله عنه يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لان يحتطب احدكم حزمة على ظهره خير له من ان يسال احد فيعطيه او يمنعه {اخرجه البخارى في كتاب المساقة}
Artinya :
Bercerita kepada kita Yahya bin Bakir bercerita kepada kita Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab dari Abi Ubaid Maula Abdurrahman bin Auf sesungguhnya telah mendengar dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : Rasulullah bersabda “Mencari kayu bakar seberkas lalu dipikul di atas punggungnya terus dijual itu lebih baik bagi seseorang dari pada mengemis kepada orang lain yang kadang-kadang diberinya atau tidak”.
Makna hadits tersebut adalah bahwasanya Rasulullah SAW menganjurkan untuk kerja dan berusaha serta makan dari hasil keringatnya sendiri, bekerja dan berusaha dalam Islam adalah wajib, maka setiap muslim dituntut bekerja dan berusaha dalam memakmurkan hidup ini. Selain itu jika mengandung anjuran untuk memelihara kehormatan diri dan menghindarkan diri dari perbuatan meminta-minta karena Islam sebagai agama yang mulia telah memerintahkan untuk tidak melakukan pekerjaan yang hina.
c. Hadits Miqdam bin Ma’dikariba tentang Nabi Daud makan dari usahanya sendiri
حدثناإبراهيم ابن موسى أخبرنا عيسى بن يو نس عن ثورٍ عن خالدبن معدان عن المقدام رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ما اكل احد طعاما قط خيرا من ان ياءكل من عمل يده وان نبي الله داوودعليه السلام كان ياء كل من عمل يده {اخرجه البخارى في كتاب المساقة}
Artinya :
Telah bercerita Ibrahim bin Musa dikabarkan pada kita Isa bin Yunus dari Tsaurin dari Khalid bin Ma’dan Diriwayatkan dari al-Miqdam ra : Nabi Saw pernah bersabda, “tidak ada makanan yang lebih baik dari seseorang kecuali makanan yang ia peroleh dari uang hasil keringatnya sendiri. Nabi Allah, Daud as, makan dari hasil keringatnya sendiri”.
Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa rizki yang paling baik adalah rizki yang didapat dari jalan yang dihalalkan Allah SWT, serta dari usaha diri sendiri. Bahwasanya Nabi Daud AS adalah seorang Nabi, akan tetapi beliau makan dari hasil tangannya sendiri.
d. Hadits Abu Hurairah r.a tentang Nabi Zakariya seorang tukang kayu
حدثناهدّاب بن خالدٍ. حدثنا حمادبن سلمة عن ثابت، عن أبي رافعٍ، عن ابى هريرة رضي الله عنه يقول قال رسول الله صلىالله عليه وسلم قال كان زكرياء نجّارا {اخرجه مسلم في كتاب الفضائل}
Artinya :
Telah bercerita pada kita Haddab bin Kholid telah bercerita pada kita Khammad bin Salamah dari Tsabit dari Abi Raafi’ dari Abu Hurairah RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Bahwa Nabi Zakariya AS, adalah seorang tukang kayu”
Dalam hadits di atas memberi ketegasan bahwa pekerjaan apapun tidak dipandang rendah oleh Islam, hanya perlu ditekankan bahwa dalam berusaha harus memperhatikan prosesnya yang terkait dengan halal dan haram.

C. Hikmah Mencari Rizki yang Halal
Beberapa keutamaan mencari rizki yang halal antara lain:
1. Dosanya akan diampuni
Mencari rizki yang halal dalam rangka mencukupi kebutuhan pribadinya dan keluaraganya adalah suatu hal yang sangat terpuji bahkan dapat terampuni dosa-dosanya, sabda Rasulullah SAW:
من امسى كا لا من عمل الحلال امسى مغفورا له
Artinya:
”Barang siapa yang merasa payah (penat) karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rizki yang halal, niscaya akan diampuni dosa-dosanya.”

2. Menumbuhkan sikap juang yang tinggi dalam menegakkan ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Bagi orang yang selalu mengusahakan untuk menjaga makanannya dari yang haram berarti ia telah berjuang di jalan Allah dengan derajat yang tinggi. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
من سعى على عياله من حله فهو كا المجاهد في سبيل الله ومن طلب الدنيا حلال في غفاف

Artinya:
”Barang siapa yang berusaha atas keluarganya dari barang halalnya, maka ia seperti orang yang berjuang di jalan Allah. Dan barang siapa menuntut dunia akan barang halal dalam penjagaan, maka ia berada di dalam derajat orang-orang yang mati syahid.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah).


3. Mendekatkan diri kepada Allah
Orang yang senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal, maka dengan sendirinya akan menambah keyakinan diri bahwa Allah dekat dengan kita yang selalu mendengarkan permintaan doa kita, sebagaimana sabda Nabi SAW
ان سعد سال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان يسال الله تعالى ان يجعله مجباب الدعوة فقال له: اطب طعمتك تستجب دعوتك

Artinya:
Bahwasanya Sa’ad memohon kepada Rasulullah SAW untk memohon kepada Allah SWT untuk menjadikannya (Sa’ad) diperkenankan doanya. Lalu beliau bersabda, ”Baikkanlah makananmu maka doamu diperkenankan.” (HR Thabrani dari Ibnu Abbas)

IV. KESIMPULAN
Rizki yang halal yaitu sesuatu yang dapat diambil manfaatnya dan boleh dikerjakan atau dimakan sesuai syari’at Islam. Sedangkan contoh mencari rizki yang deperbolehkan oleh syari’at Islam, antara lain melalui jual beli, pertambangan, pertanian dll.
Ajaran Islam menekankan kewajiban yang keras atas setiap pemeluknya untuk giat bekerja. Selain itu, dorongan untuk mencari rizki yang halal itu lebih baik dengan usahanya sendiri, serta orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan yang mengakibatkan seseorang menjadi tercela dan hina.
Beberapa keutamaan mencari rizki yang halal antara lain: dosanya akan diampuni, menumbuhkan sikap juang yang tinggi dalam menegakkan ajaran Allah dan Rasul-Nya, serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.

V. PENUTUP
Dengan segala keterbatasan kami, demikianlah makalah ini kami buat. Kesempurnaan hanyalah ada pada Allah SWT, oleh karena itu sudah pasti makalah ini memerlukan kritik dan saran yang membangun dari pembaca yang budiman demi lebih baiknya makalah setelah ini. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Amin.





DAFTAR PUSTAKA

Al Asyhar, Thobieb. 2003. Bahaya Makan Haram. Jakarta: PT Al Mawardi Prima.
Al Muhaisibi, Al Hamts bin Asad. 2008. Mencari Rizki yang Halal dan Hakekar Tawakkal. Jakarta: Pustaka Amanat.
Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2006. Mutiara Hadist. Semarang: Rizki Putra.
Ibrahim, T dkk. 2008. Penerapan Fiqih. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Qadir, Abdurrachman. 2001. Zakat. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Shiddiq, Ahmad. 2002. Benang Tipis Antara Halal dan Haram. Surabaya: Putra Pelajar.
Usman, M. Ali dkk. 1995. Hadits Qudsy. Bandung: CV. Diponegoro

Tags

Blog Archive